btn inquiry
Got questions +6221 29037500

Age of Automation: Arah Baru Data Center

18 May 2020


Dunia teknologi global sudah sampai pada masa di mana semua serba otomatis. Ya, inilah “Age of Automation”. Pada era revolusi industri 4.0 ini semua dituntut serba cepat, serba otomatis, akurat, dan minim kesalahan.

Data center sebagai tulang punggung infrastruktur digital tentunya terus mengikuti perkembangan teknologi dengan mengadopsi otomasi dalam berbagai kegiatan seperti pengoperasian, pemeliharaan, hingga konfigurasi jaringan. Dengan otomasi menggunakan artificial intelligence (AI) maupun machine learning, penyedia layanan data center ingin meminimalkan kesalahan yang bisa ditimbulkan oleh kesalahan manusia (human error) dan juga waktu kerja yang lebih efisien dan efektif. Sehingga dapat meningkatkan kinerja data center.

Pasar otomasi data center diprediksi akan terus meningkat. Pasar global otomasi data center akan mencapai nilai US$ 19,65 miliar (setara Rp 265,3 triliun) pada 2025 dengan nilai CAGR (compound annual growth rate) mencapai 17,83% selama periode 2020-2024. Tingginya pasar otomasi data center disebabkan beberapa faktor, diantaranya, penggunaan media sosial yang tiada henti, analisis data secara real time, data cloud, dan komputasi data telepon seluler. Laporan yang sama menunjukkan sebanyak 80% data berupa audio file dan teks mentah yang berasal dari berbagai sumber, seperti blog dan media sosial.

Data center dapat sepenuhnya otomatis dalam mengolah semua data mentah tersebut berkat teknologi seperti AI dan machine learning. Hanya saja, perusahaan penyedia data center memang harus menyiapkan sumber daya, skema operasionalnya, dan infrastrukturnya terlebih dahulu, khususnya pada infrastruktur jaringan yang memainkan peran penting.

Ada banyak keuntungan ketika data center dioperasikan secara otomatis. Hal itu karena kata kunci otomasi adalah “lebih efektif” dan “lebih efisien” dalam memecahkan suatu masalah dan biaya. Otomasi data center akan memangkas biaya operasional sumber daya manusia yang kemudian digantikan dengan AI atau machine learning, khususnya dalam perencanaan, operasional, dan pengelolaan. Sementara dalam hal penggunaan energi, otomasi data center juga akan lebih mengoptimalkan konsumsi daya yang dipakai. Jadi, kalau boleh diasumsikan, tiga sampai empat pekerjaan teknisi manusia bisa dikerjakan oleh satu skema kerja AI.

Ada tiga contoh penggunaan otomasi dalam data center. Pertama, computerized maintenance management system yang berguna untuk mengolah manajemen aset data center, seperti parameter maintenance, penjadwalan maintenance, maintenance records, mencatat peristiwa (incident) yang terjadi terkait aset data center tersebut.

Kedua, dynamic thermal management yang berkaitan dengan konsumsi daya. Sistem ini menggunakan AI-based cooling management yang bisa mengontrol CRAC (Computer Room Air Conditioner). Sistem ini mempelajari pola atau karakteristik dari temperatur ruangan, sehingga tidak perlu keterlibatan manusia untuk mengatur CRAC secara manual. Tentunya, sistem ini bisa memaksimalkan power usage effectiveness (PUE) dan menjaga SLA.

Ketiga ialah predictive sensors. Sistem ini melibatkan ratusan sensor, seperti vibration, noise, temperature, humidity, hydrogen, water level, dan sebagainya. Sensor-sensor tersebut nantinya berguna untuk mendapatkan data yang bisa memberikan peringatan ketika fasilitas data center mengalami sebuah insiden di luar kemampuan manusia, bukan sebelum atau sesudahnya.

Pertanyaannya sekarang, seberapa efektif dan seberapa efisien otomasi berpengaruh pada industri data center? Berikut penjelasanya:

1. Efektivitas Pemecahan Masalah
Pengelolaan data center biasanya dilakukan oleh tim engineer yang selalu memonitor agar data center bisa beroperasi dengan normal. Selain itu, mereka juga mengatasi adanya masalah yang muncul. Misalnya, kerusakan perangkat, upaya pembobolan data, back up data, hingga maintenance.

Meski tim engineer memantau data center selama 24 jam, tapi tidak menutup kemungkinan akan terjadi kegagalan dalam pengelolaannya yang biasanya disebabkan oleh human error. Sebuah survei dari Uptime Institute pada 2019 menyebutkan, bahwa 70% kegagalan data center disebabkan karena human error.

Skema otomasi dapat memangkas lamanya pemecahan masalah yang disebabkan kesenjangan tersebut. Dengan semakin berkembangnya teknologi IT yang ada sekarang, mesin otomasi mampu menyelesaikan masalah downtime tanpa bantuan manusia. Tampaknya tidak berlebihan kalau suatu saat AI maupun machine learning mampu menyelesaikan lebih banyak masalah di data center tanpa bantuan manusia.

2. Efisiensi Operasional
Setiap pusat data terdiri dari ratusan--bahkan ribuan--server fisik dan peralatan penyimpanan untuk memproses dan menyimpan data. Untuk menangani volume data yang sangat besar tersebut, tim engineer di data center harus merancang algoritma agar bisa menyeimbangkan beban kerja server. Pendekatan ini terbukti tidak efisien karena malah makin meningkatkan laju pengumpulan data.

Menambahkan AI di data center bisa membantu mendistribusikan beban kerja di berbagai server dengan bantuan analitik prediktif. Algoritma load balancing yang dijalankan AI bisa menganalisa dari data sebelumnya untuk mendistribusikan beban kerja secara efisien 1.

Optimalisasi server berbasis AI juga bisa membantu menemukan kemungkinan kelemahan di data center, mengurangi waktu pemrosesan data, dan menyelesaikan faktor risiko lebih cepat daripada pendekatan yang ada selama ini. Otomasi pada akhirnya memang menjadi elan vital dalam efisiensi operasional di dalam data center.

3. Menaikkan Permintaan Data Center
Otomasi, dalam hal ini AI dan machine learning, memang gelombang inovasi bisnis yang akan terus melesat naik ke depannya. Banyak keuntungan yang didapatkan dengan penggunaan otomasi di segala bidang, termasuk di data center. Mulai dari efisiensi kerja, pengurangan biaya operasional, hingga naiknya saham perusahaan yang memanfaatkan AI.

Di sisi lain, di era digital seperti sekarang ini, berbagai teknologi dan inovasi baru di dunia IT terus bermunculan. Mulai dari kendaraan tanpa pengemudi, Internet of Things (IoT), blockchain, hingga mesin cetak 3D. Otomasi data center dipercaya mampu berintegrasi dengan untuk mengelola berbagai sumber daya teknologi dan inovasi tersebut. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya otomasi bagi masa depan industri data center. Efisiensi dan efektivitas otomasi data Center pada akhirnya menghasilkan produktivitas yang tinggi dan dapat membuka peluang bisnis ke tingkat selanjutnya.

DCI Indonesia, pemimpin industri data center dan memiliki peranan yang sangat strategis di Indonesia, mulai mengadopsi otomasi dalam operasional data center. Hal ini merupakan komitmen DCI untuk memberikan layanan data center yang terpercaya, aman, dan handal.

 

 

 

source:

1. Rhonda Ascierto. 2019. "Very smart data centers: How AI will power operational decisions". Presentation Uptime Institute on 6 November 2019.