btn inquiry
Got questions +6221 29037500

MEMPREDIKSI MASA DEPAN DATA CENTER

20 April 2020


Masa depan data center adalah sebuah keniscayaan. Tak berlebihan kalau data center adalah komponen yang harus ada untuk membangun sebuah bisnis. Jangankan 10 tahun, banyak pakar memprediksi lima tahun ke depan saja kebutuhan data center akan terus melesat naik. Semua sektor industri membutuhkannya, mulai dari ritel, grosir, kargo, skala kecil, menengah, maupun besar.

 

Para pakar Structure Research mengeluarkan prediksi seputar data center dalam gelaran Infra // Structure Summit di Toronto, Kanada, 2019 lalu yang menyebutkan bahwa pasar global data center pada 2024 diprediksi akan naik dua kali lipat dibandingkan 2018. Jika pada 2018 revenue pasar global data center bisa mencapai US$ 39,64 miliar (atau setara dengan Rp 535 triliun), pada 2024 diprediksi akan menjadi US$ 69,74 miliar (setara dengan Rp 941.94 triliun). Asia Pasific tetap menjadi pasar menggiurkan dan diproyeksikan menjadi pasar terbesar di dunia dengan revenue mencapai US$ 19,88 (Rp 268.38 triliun) miliar pada 2021. Angka tersebut di atas Amerika Utara yang diprediksi mencapai US$ 19,58 miliar (Rp 264.33 triliun).

 

Data center tentunya akan selalu memainkan peranan penting dalam sebuah bisnis, baik itu dalam penyimpanan, perhitungan, dan pengelolaan informasi. Data center bisa dibilang merupakan jantung sekaligus tulang punggung Internet. Mereka menyimpan data, mengolah data, hingga mengangkut data yang dihasilkan tersebut setiap detiknya.

 

Semakin banyak data yang kita buat, semakin vital pula pusat data. Berikut beberapa prediksi tentang masa depan data center:

 

1. Pertumbuhan

Tiga sektor data center yang diprediksi akan terus berkembang di antaranya, yaitu fasilitas carrier neutral data center sebesar US$ 16,3 miliar (Rp 220 triliun), pengembangan operator penyedia jasa internet sebesar US$ 11 miliar (Rp 148,5 triliun), dan sistem integrasi data center sebesar US$ 1,5 miliar (Rp 20,25 triliun). Dari tiga sektor data center tersebut, pada pakar Structure Research memproyeksikan adanya kenaikan secara vertikal pada carrier neutral data center, yakni 8,7% hingga 2024.

 

Sementara itu, menurut Forbes, hanya sedikit organisasi yang menyiapkan strategi penggunaan data center dalam berbagai operasi bisnis mereka. Hanya 11% dari CEO di dunia yang berpikir bahwa data center yang mereka gunakan siap untuk volume data yang lebih tinggi.

 

2. Artificial Intelligence

Menggunakan Artificial Intelligence (AI) dapat memungkinkan tim teknis penyedia layanan data center menerapkan strategi baru dalam mengoptimalisasi fasilitas data center.

 

AI yang dikembangkan dalam sebuah data center diharapkan bisa memberikan akses ke pelanggan secara online real-time kepada pelanggan seputar power, humidity (kelembaban), dan temperatur (suhu). Pakar Equinix, perusahaan data center global, memperkirakan akan semakin banyak end-user data center yang menggunakan data dari AI untuk mengotomasi lebih banyak interaksi dengan operator penyedia data center agar bisa bekerja lebih efisien.

 

Ada beberapa alasan kenapa AI penting dalam masa depan data center. Pertama, dalam AI dikenal computerized maintenance management system yang berfungsi untuk manajemen aset data center.  Kedua, dynamic thermal management yang merupakan sistem untuk pendinginan berbasis artificial intelligence. Ketiga, predictive sensors yang berguna untuk mendapatkan data yang nantinya akan memberikan peringatan sebelum ada kejadian di luar kendali manusia. Tanpa sistem predictive sensors, data center biasanya hanya menggunakan data BMS yang hanya akan muncul saat suatu peristiwa terjadi, bukan sebelumnya.

 

3. Renewable Energy

Data center menyumbang 205 terawatt-jam penggunaan listrik pada 2018. Jumlah tersebut sekitar satu persen dari seluruh konsumsi listrik di seluruh dunia atau mewakili enam persen dari total konsumsi listrik dunia pada 20101. Jumlah tersebut tentunya akan bertambah seiring meningkatkan pasar data center dunia. Sayangnya, menurut PBB, sebagian besar energi yang dihasilkan data center memberikan kontribusi emisi gas rumah kaca yang sama dengan sektor penerbangan.

 

Saat ini, banyak penyedia data center yang sangat berkonsentrasi akan hal tersebut. Untuk menekan emisi gas buang, biasanya mereka menggunakan dua cara, yakni membuat penggunaan energi di data center lebih efisien dan menggunakan energi bersih.

 

Di masa depan, data center juga bisa berkontribusi menghasilkan energi bersih dan efisien dengan cara mendaur ulang panas yang dihasilkan dari server. Solusi ini bisa mengumpulkan panas berlebih dari data center dan mengirimkannya ke sistem pemanas distrik setempat dan bisa menjadi sumber energi listrik untuk warga setempat.

 

4. Edge Data Center

Data center adalah tulang punggung dan jantung teknologi dunia yang terus berkembang. Data center itu sendiri terus bertransformasi dalam berbagai bentuk, seperti edge data center yang berukuran kecil dan bersifat mobile.

 

Edge Data Center merupakan bentuk inovasi dari model data center yang berukuran kecil dan biasanya digunakan untuk pemrosesan data yang sangat lokal. Model ini membuat data center lebih dekat ke penyewa jasa. Sederhananya, Edge Data Center lebih mirip seperti generator listrik cadangan. Pembangunan dan desain Edge Data Center sendiri tentunya harus tahan dari bencana, seperti gempa, banjir, serta diharapkan bisa menekan biaya energi yang dipakai.

 

Model ini menawarkan metode pemrosesan data yang lebih efisien. Menurut analis pasar teknologi di CB Insight, pasar global edge data center diperkirakan akan mencapai US$ 34 miliar (atau setara dengan Rp 459 triliun) pada 2023. Model edge data center sangat cocok digunakan untuk kalangan bisnis startup, manufaktur skala kecil, pertanian, energi, utilitas, atau operator Internet Service Provider (ISP) agar lebih dekat ke end-user mereka.

 

5. Software Defined Network

Ide dasar perubahan dari jaringan berbasis perangkat keras (hardware defined network) ke jaringan berbasis perangkat lunak (software defined network) adalah untuk memungkinkan perubahan yang signifikan dalam jaringan, khususnya dalam hal operasionalnya. Metode kerja software defined network yakni menggabungkan sumber daya komputasi (mesin virtual dan wadahnya) dengan storage (disk dan flash). Melalui metode ini, sumber daya data center dapat dengan mudah dikonfigurasi untuk mengatasi perubahan tanpa mengubah elemen fisik komputasi, storage, maupun elemen jaringan.

 

Software defined network data center memungkinkan adaptasi jaringan yang cepat dan mampu menangani aliran data besar yang diciptakan oleh skema Big Data maupun micro-services architecture. Bahkan, nantinya software defined network ini akan mampu menangani arus lalu lintas data secara horizontal yang cepat dan dengan mudah terhubung dengan jaringan virtual (vSwitches) dan virtual LAN (vLANs).

 

Tak kalah penting untuk dicatat selain kelima hal tersebut ialah di masa depan data center tentu akan lebih menyederhanakan seluruh proses kerjanya agar bisa mengambil peran penting di segala aspek bisnis. Bisa dibilang data center di masa depan akan seperti "toko serba ada". Tidak menutup kemungkinan ke depannya data center akan melahirkan cabang bisnis baru lainnya.

 

DCI Indonesia, pemimpin industri data center dan memiliki peranan yang sangat strategis di Indonesia, mulai mengadopsi beberapa teknologi tersebut. Hal ini merupakan komitmen DCI untuk memberikan layanan data center yang terpercaya, aman, dan handal.

 
 
Source: 
1.  Maset, E., Shehabi, A., Lei, N., Smith, S., Koomey, J. 2020. “Recalibrating global data center energy-use estimates”. Sciences. Vol. 367, Issue 6481, pp. 984-986.